Seberapa Penting Brand Awareness untuk Bisnis? Ini yang Perlu Kamu Tahu



Kamu pasti pernah kan melihat sebuah produk, lalu baru melihat warna, logo, atau bahkan mendengar sedikit slogannya saja sudah langsung tahu brand apa?

Atau lebih sederhananya, ketika seseorang menyebut kategori produk tertentu, ada satu nama brand yang langsung muncul di kepala?

Nah, kurang lebih seperti itulah gambaran brand awareness.

Menurutku, brand awareness sering dianggap sebagai sesuatu yang abstrak karena hasilnya ga selalu bisa langsung dilihat dalam bentuk transaksi. Padahal, kalau dipikir-pikir, orang tentu lebih mudah membeli dari brand yang sudah mereka kenal dibandingkan brand yang sama sekali asing.

Apalagi sekarang persaingan bisnis semakin ramai. Produk atau jasa yang kita tawarkan mungkin bagus, tapi kompetitor juga bisa punya produk yang sama bagusnya. Kalau customer bahkan belum tahu bisnis kita ada, tentu akan cukup sulit untuk menjadi pilihan mereka.

Karena itu, membangun brand awareness bisa menjadi salah satu bagian penting dalam strategi marketing. Bukan cuma supaya orang tahu nama brand-mu, tapi juga supaya mereka mulai mengenal, mengingat, memilih, sampai akhirnya loyal.

Tingkatan Brand Awareness

Brand awareness ternyata ga berhenti di tahap "orang tahu brand-ku".

Ada beberapa tingkatan yang bisa menggambarkan seberapa kuat sebuah brand sudah tertanam di benak customer. Memahami tingkatan ini menurutku cukup membantu, terutama kalau kamu sedang menentukan target marketing.


Berikut beberapa tahapannya.

1. Brand Recognition

Ini merupakan tahap paling dasar.

Customer mungkin belum langsung mencari brand-mu ketika membutuhkan sesuatu, tapi mereka sudah bisa mengenalinya ketika melihatnya.

Misalnya mereka melihat logo, warna, kemasan, nama, tagline, atau elemen visual tertentu lalu berkata, "Oh, aku tahu brand ini."

Di tahap ini, tugas brand adalah membuat identitas yang mudah dikenali dan dibedakan dari kompetitor.

Makanya konsistensi visual, komunikasi, dan cara brand tampil di berbagai platform cukup penting.

2. Brand Recall

Naik satu tingkat, customer bukan cuma mengenali brand ketika melihatnya, tapi sudah bisa mengingatnya tanpa diberikan petunjuk visual.

Misalnya aku bertanya, "Sebutkan brand sepatu olahraga yang kamu tahu."

Kalau nama brand-mu langsung muncul di kepala, berarti brand tersebut sudah memiliki brand recall yang cukup kuat.

Untuk sampai ke tahap ini tentunya ga cukup hanya mengandalkan logo atau desain yang bagus. Pengalaman customer, kualitas produk, komunikasi, konten, sampai frekuensi mereka melihat brand juga bisa ikut membentuk ingatan tersebut.

3. Top of Mind

Nah, ini mulai menarik.

Top of mind adalah ketika brand-mu menjadi salah satu nama pertama yang muncul di pikiran customer ketika mereka memikirkan kategori produk atau jasa tertentu.

Misalnya aku bilang "air mineral", mungkin ada beberapa nama brand yang langsung muncul di kepala.

Atau ketika seseorang membutuhkan ojek online, ada brand tertentu yang langsung terpikir tanpa perlu mencari-cari terlalu lama.

Di sinilah kekuatan brand awareness mulai terasa. Customer bukan cuma tahu bahwa brand-mu ada, tapi brand-mu sudah menjadi salah satu pilihan yang langsung muncul ketika mereka membutuhkan sesuatu.

Untuk mencapainya, tentu butuh proses yang panjang. Konsistensi marketing, kualitas produk, pengalaman customer, dan komunikasi brand harus terus dijaga.

4. Brand Preference

Kalau sudah sampai tahap ini, customer bukan cuma mengenal dan mengingat brand-mu. Mereka lebih memilih brand-mu dibandingkan alternatif lainnya.

Misalnya ada dua produk dengan fungsi yang kurang lebih sama. Customer tetap memilih produk dari brand tertentu karena sudah percaya dengan kualitasnya, cocok dengan pelayanannya, atau memang merasa brand tersebut paling sesuai dengan kebutuhan mereka.

Ini sudah lebih dalam daripada sekadar awareness.

Customer mulai memiliki alasan kenapa mereka memilih brand-mu.

Dan alasan tersebut bisa berasal dari banyak hal, mulai dari kualitas produk, harga, pelayanan, pengalaman sebelumnya, nilai yang dibawa brand, sampai hubungan emosional.

5. Brand Loyalty

Ini bisa dibilang sebagai salah satu tahap paling tinggi.

Customer bukan cuma memilih brand-mu, tapi sudah loyal dan terus kembali.

Mereka melakukan pembelian berulang, mengikuti perkembangan brand, berinteraksi dengan konten, bahkan bisa merekomendasikannya kepada orang lain.

Menariknya, customer loyal kadang bisa menjadi bagian dari marketing kita juga.

Misalnya ada customer yang dengan sukarela merekomendasikan produk ke temannya, membuat review, upload pengalaman menggunakan produk, atau sekadar menjawab pertanyaan orang lain tentang brand tersebut.

Kita ga perlu membayar mereka untuk melakukan itu.

Itulah kenapa customer loyalty punya nilai yang besar untuk bisnis.

Brand Awareness Bukan Cuma Soal Banyak yang Tahu

Menurutku, salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap brand awareness hanya tentang seberapa banyak orang yang pernah melihat nama brand kita.

Padahal, awareness itu punya tingkatan.

Orang mungkin pernah melihat brand-mu di Instagram. Tapi apakah mereka masih ingat seminggu kemudian?

Mereka mungkin tahu brand-mu. Tapi ketika membutuhkan produk yang kamu jual, apakah brand-mu menjadi salah satu pilihan mereka?

Atau bahkan, apakah mereka akan memilih brand-mu dibandingkan kompetitor?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini justru lebih menarik untuk dipikirkan.

Karena tujuan akhirnya bukan cuma membuat orang tahu, tapi bagaimana brand tersebut bisa terus berada dalam ingatan customer dan memiliki alasan yang kuat untuk dipilih.

Bagaimana Cara Membangun Brand Awareness?

Ga ada satu cara aja untuk membangun brand awareness. Biasanya justru membutuhkan kombinasi berbagai aktivitas marketing.

Kamu bisa mulai dengan membuat identitas brand yang konsisten, rutin membuat konten, menggunakan media sosial, menjalankan iklan, memberikan pengalaman customer yang baik, sampai membuat produk atau layanan yang memang memuaskan.

Dan jangan lupa, konsistensi juga penting.

Brand awareness biasanya ga terbentuk hanya karena satu iklan yang viral. Bisa jadi customer perlu melihat brand-mu berkali-kali, berinteraksi dengan kontenmu, mencoba produk, lalu mendapatkan pengalaman yang positif sebelum akhirnya benar-benar mengingat dan memilih brand tersebut.

Jadi, kalau sekarang brand-mu belum langsung dikenal banyak orang, menurutku ga perlu terlalu khawatir.

Bangun pelan-pelan, tapi konsisten.

Kesimpulan

Brand awareness bukan cuma tentang membuat orang tahu nama bisnismu. Lebih jauh dari itu, brand awareness bisa berkembang dari sekadar mengenali brand, mengingatnya, menjadikannya pilihan utama, sampai akhirnya menjadi customer yang loyal.

Karena itu, kalau kamu sedang membangun bisnis, jangan cuma mengejar transaksi hari ini. Pikirkan juga bagaimana caranya supaya customer bisa mengingat brand-mu ketika mereka membutuhkan produk atau jasa yang kamu tawarkan.

Mulai dari konten, media sosial, iklan, identitas visual, sampai pengalaman setelah customer membeli produk, semuanya bisa menjadi bagian dari proses membangun brand awareness.

Dan menurutku, di tengah persaingan bisnis yang semakin ramai sekarang, menjadi brand yang diingat bisa sama pentingnya dengan menjadi brand yang ditemukan.

Semoga artikel tentang brand awareness ini bermanfaat ya! Sampai jumpa di artikel berikutnya.