Sekarang kalau aku lihat bisnis yang sama sekali ga punya media sosial, rasanya agak aneh juga. Bukan berarti semua bisnis wajib punya akun di setiap platform, tapi setidaknya punya satu atau dua media sosial yang memang sesuai dengan target customer menurutku cukup penting.
Soalnya, media sosial sekarang bukan cuma tempat upload foto, video, atau curhat. Kita bisa menemukan produk, mencari rekomendasi, membaca review, sampai akhirnya memutuskan mau membeli sesuatu setelah melihat konten di media sosial.
Yang menarik, untuk mulai membangun awareness di media sosial kita juga ga harus langsung punya budget iklan yang besar. Banyak platform yang masih memungkinkan bisnis menjangkau audiens secara organik.
Tapi ada satu hal yang menurutku penting. Jangan menganggap media sosial sebagai tempat untuk jualan terus-menerus.
Orang membuka Instagram, TikTok, Threads, atau platform lainnya bukan karena mereka sedang ingin melihat katalog produk seharian. Jadi, kalau setiap postingan isinya "beli sekarang", "promo sekarang", dan "order sekarang", lama-lama orang juga bisa bosan.
Menurutku, justru konten yang membuat orang tertarik, merasa relate, atau mendapatkan informasi bisa menjadi awal yang bagus untuk mengenalkan bisnis.
Nah, dari beberapa platform yang bisa dicoba, ini beberapa di antaranya.
1. Instagram
![]() |
| source: Malou |
Instagram masih menjadi salah satu platform yang menurutku cukup aman untuk memulai membangun kehadiran bisnis di media sosial.
Kekuatan Instagram ada di konten visual. Kamu bisa menggunakan foto, carousel, Stories, Reels, sampai berbagai format konten lainnya untuk mengenalkan bisnis.
Kontennya juga ga harus selalu tentang produk.
Misalnya kamu punya bisnis makanan, kamu bisa membagikan proses membuat produknya, cerita di balik bisnis, tips yang berhubungan dengan makanan, cerita customer, atau bahkan kegagalan yang pernah terjadi selama menjalankan bisnis.
Baru setelah audiens mulai mengenal bisnis dan terbiasa melihat kontenmu, kamu bisa menyisipkan produk atau jasa yang kamu tawarkan.
Reels juga bisa membantu akun menjangkau orang yang belum menjadi followers. Jadi, jangan berpikir bahwa konten Instagram hanya akan dilihat oleh orang yang sudah mengikuti akunmu.
2. TikTok
![]() |
| source: Newsroom TikTok |
Kalau ngomongin media sosial yang punya kemampuan menjangkau orang baru, TikTok tentu ga bisa dilewatkan.
TikTok sudah berkembang jauh dari image lamanya sebagai aplikasi untuk video joget. Sekarang hampir semua jenis konten bisa ditemukan di sana, mulai dari edukasi, tutorial, review produk, cerita bisnis, hiburan, sampai konten yang sangat niche.
Salah satu hal yang membuat TikTok menarik untuk bisnis adalah peluang konten menjangkau orang yang belum follow akun kita.
Jadi, akun baru dengan followers yang masih sedikit pun tetap punya kesempatan mendapatkan views kalau kontennya memang menarik bagi audiens.
Menurutku, jangan terlalu terpaku pada "jualan". Coba buat video yang memang ingin ditonton orang.
Misalnya kamu punya toko skincare, daripada setiap video cuma menunjukkan produk dan harganya, kamu bisa membuat konten tentang kesalahan menggunakan skincare, cerita customer, pengalaman mencoba produk tertentu, atau tips memilih produk berdasarkan kebutuhan.
Kalau kontennya menarik, produk bisa masuk secara natural.
Dan sekarang TikTok juga sudah semakin berkembang sebagai ekosistem bisnis, bukan sekadar media sosial. Ada berbagai fitur dan program yang bisa dimanfaatkan bisnis maupun creator, termasuk affiliate dan fitur belanja yang membuat perjalanan dari melihat konten sampai membeli produk menjadi semakin dekat.
3. Threads
![]() |
| source: tangselxpress |
Nah, ini platform yang menurutku menarik karena cara bermainnya cukup berbeda.
Kalau di Instagram atau TikTok kita bisa mengandalkan visual dan video, Threads lebih banyak mengandalkan percakapan dan tulisan.
Tapi ada satu aturan tidak tertulis yang menurutku penting kalau mau membangun bisnis di Threads:
Jangan datang ke Threads cuma untuk jualan.
Kalau baru bikin akun lalu setiap hari posting:
"Teman-teman, yuk beli produk aku!"
kemungkinan besar orang juga ga terlalu tertarik.
Justru Threads bisa dimanfaatkan untuk storytelling.
Ceritakan bagaimana awal kamu membuka bisnis. Ceritakan waktu pertama kali mendapatkan customer. Ceritakan kesulitan mencari supplier, salah menghitung stok, menghadapi customer, produk yang pernah gagal, sampai hal-hal kecil yang terjadi selama menjalankan bisnis.
Cerita seperti ini bisa membuat orang mengenal orang di balik brand, bukan cuma produknya.
Misalnya kamu punya bisnis kue. Daripada langsung posting katalog, kamu bisa cerita:
"Dulu aku mulai jualan kue karena sering diminta bikin untuk acara keluarga. Awalnya cuma terima dua order dalam sebulan, sampai suatu hari ada customer yang pesan 50 box..."
Dari cerita seperti itu, orang bisa ikut penasaran dengan perjalanan bisnismu.
Baru ketika memang ada kesempatan yang natural, produk bisa disebutkan.
Misalnya ada orang di Threads yang sedang bertanya:
"Ada rekomendasi brownies enak daerah Depok ga?"
Nah, ini baru bisa menjadi semacam lapak gratis.
Atau ada orang yang sengaja membuat postingan seperti:
"Yang punya bisnis, boleh promosiin produknya di komentar ya."
Kalau memang konteksnya seperti itu, silakan ikut memperkenalkan bisnis.
Jadi prinsipnya bukan jangan pernah jualan di Threads, tapi jangan menjadikan seluruh isi akun sebagai katalog berjalan.
Menurutku, Threads lebih cocok digunakan untuk membangun hubungan dan membuat orang penasaran dengan siapa kamu dan apa yang kamu kerjakan.
4. Facebook
| source: socialmediaexaminer |
Jangan buru-buru menganggap Facebook sudah ga relevan.
Untuk beberapa jenis bisnis, terutama bisnis lokal, Facebook masih bisa menjadi tempat yang cukup menarik untuk mencari customer.
Salah satu yang bisa dicoba adalah Facebook Group.
Misalnya kamu menjual makanan, kue, hampers, jasa tertentu, atau produk lokal. Cari grup yang memang berisi masyarakat di kota atau area targetmu.
Tapi lagi-lagi, jangan asal masuk grup lalu setiap hari spam katalog.
Perhatikan dulu aturan grupnya. Ada grup yang memang menyediakan hari tertentu untuk promosi, ada juga yang melarang promosi sama sekali.
Kalau ada thread yang memang meminta rekomendasi produk atau jasa, barulah kamu bisa ikut berpartisipasi kalau memang relevan.
Selain itu, Facebook juga masih memiliki berbagai format konten yang bisa digunakan untuk membangun awareness. Jadi, jangan cuma mengandalkan postingan jualan.
5. YouTube
![]() |
| source: filmora wondershare |
Kalau kamu punya kemampuan membuat video yang lebih panjang, YouTube juga menarik untuk dipertimbangkan.
Bedanya dengan beberapa platform lainnya, konten YouTube punya umur yang relatif panjang. Video yang dibuat hari ini masih bisa ditemukan orang beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun kemudian melalui pencarian.
Misalnya kamu menjual produk elektronik. Kamu bisa membuat video tutorial, perbandingan produk, cara menggunakan produk, tips perawatan, atau menjawab pertanyaan yang sering ditanyakan customer.
Kalau kamu punya bisnis jasa, kamu juga bisa membagikan edukasi yang berhubungan dengan layananmu.
Jadi, jangan cuma membuat video dengan tujuan "mendapatkan subscriber".
Lebih penting lagi, pikirkan:
"Kalau orang menemukan video ini, apa yang mereka dapatkan?"
Kalau videomu benar-benar membantu, kemungkinan orang akan lebih percaya dengan brand-mu. Dari situ, subscriber dan customer bisa datang secara bertahap.
Jadi, Harus Aktif di Semua Media Sosial?
Menurutku, ga perlu.
Ini justru salah satu kesalahan yang cukup sering dilakukan ketika baru mulai digital marketing. Baru punya bisnis, langsung membuat akun Instagram, TikTok, Facebook, Threads, YouTube, X, LinkedIn, dan semuanya harus aktif.
Akhirnya? Seminggu kemudian bingung mau posting apa.
Lebih baik pilih dua atau tiga platform yang memang sesuai dengan target audiens dan kemampuanmu mengelola kontennya.
- Kalau targetmu banyak mengonsumsi video pendek, TikTok dan Instagram bisa dicoba.
- Kalau bisnisnya sangat lokal, Facebook Group bisa menarik.
- Kalau kamu suka bercerita dan membangun personal connection, Threads bisa dicoba.
- Kalau bisnis membutuhkan edukasi yang lebih mendalam, YouTube bisa menjadi pilihan.
Jadi, bukan tentang siapa yang paling banyak menggunakan media sosial, tapi di mana customer-mu berada dan jenis konten seperti apa yang bisa kamu buat secara konsisten.
Kesimpulan
Media sosial bisa menjadi salah satu cara yang cukup murah untuk mulai mengenalkan bisnis. Tapi menurutku, jangan melihat media sosial hanya sebagai tempat untuk memasang katalog dan mencari transaksi.
Bangun dulu perhatian dan hubungan dengan audiens.
Instagram bisa dimanfaatkan untuk visual dan Reels, TikTok untuk video pendek dan menjangkau audiens baru, Threads untuk storytelling dan percakapan, Facebook untuk komunitas dan bisnis lokal, sedangkan YouTube cocok untuk konten video yang lebih mendalam dan bisa ditemukan dalam jangka panjang.
Dan satu lagi, jangan merasa harus aktif di semuanya.
Lebih baik punya dua akun yang benar-benar hidup dan punya karakter daripada punya tujuh akun tapi semuanya cuma berisi postingan "Promo! Promo! Promo!"
Karena pada akhirnya, orang membeli bukan cuma karena mereka melihat produkmu. Mereka juga bisa membeli karena sudah mengenal, percaya, dan merasa dekat dengan brand-mu.
Semoga bermanfaat ya!




