Ngomongin traffic website secara organik, menurutku ini salah satu bagian dari SEO yang paling butuh kesabaran. Kita bisa saja berharap website langsung ramai setelah membuat beberapa artikel, tapi kenyataannya biasanya ga sesederhana itu.
Apalagi kalau yang dikejar adalah traffic dari Google. Bikin satu artikel yang menurut kita bagus belum tentu langsung mendatangkan pengunjung. Kadang sudah capek riset keyword, nulis panjang, edit sana-sini, eh beberapa bulan kemudian traffic-nya masih segitu-gitu saja.
Tapi bukan berarti satu-satunya cara adalah terus-terusan membuat artikel baru.
Justru kalau websitemu sudah punya banyak konten, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan traffic tanpa harus selalu mulai dari halaman kosong. Aku sendiri lebih suka mengecek dulu konten yang sudah ada, karena bisa jadi sebenarnya website kita sudah punya "modal" yang tinggal dioptimalkan.
Berikut beberapa cara yang bisa kamu coba.
1. Update Konten yang Sudah Usang
Kalau websitemu sudah berjalan selama beberapa tahun, coba buka kembali artikel-artikel lama. Bisa jadi ada banyak informasi yang sudah berubah, bahkan sudah ga relevan lagi dengan kondisi sekarang.
Misalnya kamu punya artikel tentang algoritma Google yang ditulis beberapa tahun lalu. Informasinya mungkin memang masih menarik, tapi kalau pembaca datang karena mencari update terbaru, mereka tentu akan lebih membutuhkan informasi yang sesuai dengan kondisi sekarang.
Daripada membuat artikel baru dari nol, kenapa ga memperbarui artikel lama yang sudah punya traffic?
Aku biasanya akan melihat dulu artikel mana yang sudah mendapatkan pengunjung. Setelah itu, baru mengecek apakah isinya masih relevan atau ada bagian yang perlu diperbarui.
Judul juga bisa disesuaikan, informasi lama bisa dihapus, contoh bisa diganti, dan bagian yang sudah berubah bisa ditambahkan.
Cara seperti ini menurutku cukup masuk akal karena kita ga benar-benar memulai dari nol. Apalagi kalau halaman tersebut sebelumnya memang sudah punya traffic dan performa di Google.
Untuk melihat artikel mana yang layak diperbarui, kamu bisa mengeceknya melalui Google Analytics atau Google Search Console.
2. Bereskan Broken Link
Pernah klik sebuah link di website, tapi ternyata malah muncul halaman 404?
Nah, itulah salah satu contoh broken link.
Broken link bisa terjadi karena halaman tujuan sudah dihapus, alamat URL berubah, website sumbernya sudah mati, atau link yang kita masukkan memang salah sejak awal.
Kalau website sudah berumur beberapa tahun dan artikelnya sudah banyak, kemungkinan menemukan broken link juga semakin besar.
Menurutku ini termasuk pekerjaan kecil yang sering terlupakan. Padahal kalau sedang melakukan maintenance website, sekalian saja cek link-link lama yang ada.
Kamu bisa menggunakan tools dengan kata kunci seperti "broken link checker" untuk menemukannya. Kalau menggunakan WordPress, ada juga beberapa plugin yang bisa membantu mengecek link yang bermasalah.
Setelah ketemu, tinggal tentukan mau diapakan link tersebut. Bisa diganti dengan link baru, dihapus, atau kalau memang sudah ga diperlukan, kalimatnya bisa ditulis ulang tanpa menggunakan link.
Jangan sampai pembaca sedang asyik membaca artikel kita, lalu menemukan link yang ternyata membawa mereka ke halaman yang sudah ga ada.
3. Jangan Lupa Internal Link
Ini salah satu hal sederhana yang menurutku cukup sayang kalau dilewatkan.
Internal link adalah link dari satu halaman menuju halaman lain yang masih berada di website atau domain yang sama.
Misalnya aku sedang menulis artikel tentang riset keyword. Di website ternyata ada artikel lain yang pernah membahas tentang digital marketing secara lebih lengkap.
Daripada artikel-artikel tersebut berdiri sendiri, aku bisa menghubungkannya menggunakan internal link.
Contohnya, ketika sedang membahas keyword research, aku bisa mengarahkan pembaca ke artikel lain yang masih berhubungan dengan topik tersebut.
Internal link bukan cuma membantu pembaca menemukan informasi lain yang relevan. Struktur internal link yang baik juga bisa membantu mesin pencari memahami hubungan antara halaman-halaman di website.
Jadi, setiap kali menulis atau memperbarui artikel, coba lihat lagi apakah ada pembahasan lain di website yang masih nyambung.
Kalau ada, kasih internal link.
4. Coba Terjemahkan Konten Terbaikmu
Kalau target audiensmu ga cuma dari Indonesia, menerjemahkan beberapa konten terbaik ke bahasa lain juga bisa menjadi salah satu cara untuk memperluas jangkauan website.
Misalnya ada artikel berbahasa Indonesia yang ternyata performanya bagus. Daripada hanya berhenti di audiens Indonesia, kamu bisa mempertimbangkan untuk membuat versi bahasa Inggrisnya.
Tapi menurutku ga perlu langsung menerjemahkan seluruh isi website.
Mulai saja dari beberapa konten yang memang sudah terbukti bagus. Kamu bisa melihatnya melalui data traffic di Google Analytics atau performanya di Google Search Console.
Setelah punya versi bahasa lain, tentunya jangan cuma menerjemahkan kata per kata. Pastikan isi artikelnya memang enak dibaca oleh orang yang menggunakan bahasa tersebut dan tetap sesuai dengan search intent mereka.
Kalau dilakukan dengan benar, cara ini bisa membuka peluang mendapatkan pengunjung dari negara lain.
5. Perbaiki Judul Artikel yang Sudah Populer
Ini juga menarik karena kadang masalahnya bukan artikel kita jelek, tapi judulnya kurang menggoda untuk diklik.
Bayangkan sebuah artikel sudah muncul di halaman pertama Google, tapi orang-orang lebih memilih hasil pencarian lain karena judulnya terasa lebih menarik.
Di kondisi seperti ini, memperbaiki judul bisa menjadi salah satu eksperimen yang layak dicoba.
Misalnya judul lama terlalu biasa dan hanya menjelaskan topik secara umum. Kita bisa membuatnya lebih spesifik, lebih jelas manfaatnya, atau lebih sesuai dengan apa yang sebenarnya dicari audiens.
Tapi jangan sampai judulnya cuma dibuat clickbait.
Judul tetap harus sesuai dengan isi artikel. Jangan sampai pembaca tertarik karena judul, lalu setelah masuk ternyata informasinya ga sesuai harapan. Itu malah bisa bikin pengalaman pengguna menjadi buruk.
Kalau bingung mencari ide judul, sekarang kita juga sudah punya banyak tools yang bisa membantu brainstorming, termasuk ChatGPT. Tapi menurutku data dari website sendiri tetap harus menjadi acuan utama.
Lihat dulu artikel mana yang memang sudah mendapatkan traffic. Setelah itu, baru coba eksperimen dengan judulnya dan lihat apakah performanya berubah.
Jadi, Harus Selalu Bikin Konten Baru?
Menurutku, ga selalu.
Membuat konten baru memang penting, tapi jangan sampai kita terlalu sibuk membuat artikel baru sampai lupa mengurus konten yang sudah ada.
Bisa jadi ada artikel lama yang sebenarnya punya potensi besar, tapi informasinya sudah ketinggalan zaman. Bisa juga ada halaman yang sudah mendapatkan traffic tetapi judulnya kurang menarik, atau ada beberapa artikel yang sebenarnya bisa saling dihubungkan menggunakan internal link.
Daripada terus mengejar jumlah artikel, coba sesekali lihat kembali apa yang sudah kita punya.
Karena dalam SEO, menurutku bukan cuma soal seberapa banyak konten yang berhasil dibuat, tapi juga seberapa baik kita merawat dan mengembangkan konten tersebut.
Kesimpulan
Meningkatkan traffic website secara organik memang membutuhkan waktu. Tapi bukan berarti kita harus selalu membuat konten baru untuk mendapatkan pengunjung.
Mulai dari hal yang sudah ada dulu. Update artikel lama, bereskan broken link, tambahkan internal link, terjemahkan konten terbaik kalau memang punya target audiens internasional, dan coba evaluasi kembali judul artikel yang sudah mendatangkan traffic.
Kelihatannya sederhana, tapi kalau dilakukan secara rutin, website bisa terus berkembang tanpa harus selalu memulai semuanya dari nol.
Semoga artikel ini bermanfaat ya. Sampai jumpa di artikel berikutnya!
