Masih Sering Melakukan Kesalahan Ini Saat Menulis Artikel? Coba Cek Lagi


Menulis artikel kelihatannya mudah. Tinggal duduk, buka laptop, lalu mulai mengetik.

Tapi kalau tujuannya agar artikel bisa mendatangkan pengunjung, disukai pembaca, dan punya peluang muncul di Google atau bahkan AI seperti ChatGPT dan AI Overview, ternyata ada banyak hal yang perlu diperhatikan.

Aku sendiri juga dulu sempat berpikir kalau artikel yang SEO-friendly itu berarti harus penuh kata kunci. Ternyata setelah belajar lebih dalam, justru kebalikannya. Artikel yang terlalu memaksakan SEO biasanya malah terasa aneh saat dibaca.

Kalau kamu masih belajar menulis artikel untuk blog atau website, coba hindari beberapa kesalahan berikut.

1. Menulis untuk Google, Bukan untuk Manusia

Ini mungkin jadi kesalahan yang paling sering dilakukan, terutama oleh pemula.

Karena terlalu fokus mengejar peringkat di Google, akhirnya artikel dipenuhi kata kunci yang diulang berkali-kali.

Misalnya seperti ini:

Jasa desain logo murah adalah jasa desain logo murah terbaik karena jasa desain logo murah kami...

Baru satu kalimat saja sudah bikin capek membacanya.

Padahal, mesin pencari sekarang jauh lebih pintar dibanding beberapa tahun lalu. Google sudah mampu memahami konteks sebuah tulisan tanpa harus melihat kata kunci yang terus diulang.

Begitu juga AI Search seperti ChatGPT atau Gemini. Yang dicari bukan artikel yang penuh kata kunci, tetapi artikel yang benar-benar menjawab pertanyaan pengguna.

Jadi, gunakan kata kunci secara natural. Anggap saja kamu sedang menjelaskan sesuatu kepada teman, bukan sedang berbicara dengan robot.

2. Isi Artikel Bertele-tele

Pernah membuka sebuah artikel, tapi setelah membaca lima paragraf ternyata belum juga menemukan jawaban yang dicari?

Rasanya pasti ingin langsung menekan tombol Back.

Pembaca sekarang cenderung ingin mendapatkan informasi secepat mungkin.

Bukan berarti artikel harus pendek, tetapi usahakan setiap paragraf memiliki tujuan yang jelas.

Kalau ada bagian yang sebenarnya tidak menambah nilai pada pembahasan, lebih baik dihapus atau diringkas.

Artikel yang padat, jelas, dan langsung ke inti biasanya jauh lebih nyaman dibaca dibanding artikel yang hanya memutar pembahasan demi menambah jumlah kata.

3. Struktur Artikel Berantakan

Artikel yang bagus bukan hanya soal isi, tetapi juga cara menyajikannya.

Bayangkan kalau semua tulisan dibuat menjadi satu paragraf panjang tanpa heading, tanpa daftar, dan tanpa jeda.

Kemungkinan besar pembaca akan menyerah sebelum selesai membaca.

Agar lebih nyaman dibaca, buatlah struktur artikel yang rapi, misalnya:

  • pembukaan yang menjelaskan topik
  • beberapa subjudul (H2 dan H3)
  • bullet point jika diperlukan
  • kesimpulan di bagian akhir

Selain memudahkan pembaca, struktur seperti ini juga membantu mesin pencari dan AI memahami isi artikel dengan lebih baik.

4. Mengabaikan Ejaan dan Kerapian Tulisan

Kesalahan kecil sering dianggap sepele, padahal cukup berpengaruh terhadap kenyamanan membaca.

Misalnya:

  • penempatan tanda baca yang kurang tepat
  • penggunaan huruf kapital yang tidak konsisten
  • salah penulisan kata depan seperti di rumah dan dibuat
  • terlalu banyak typo

Memang tidak harus menggunakan bahasa yang sangat formal.

Kalau target pembacamu anak muda, memakai bahasa santai juga tidak masalah. Yang penting tetap rapi dan mudah dipahami.

Aku sendiri lebih suka menggunakan kata seperti ga, tapi, atau biar dibanding bahasa yang terlalu kaku. Selama penggunaannya konsisten dan sesuai dengan target pembaca, itu bukan masalah.

5. Tidak Memikirkan Pengalaman Pembaca

Kadang kita terlalu fokus menyelesaikan tulisan sampai lupa memikirkan siapa yang akan membacanya.

Coba bayangkan kalau kamu menjadi pembacanya.

Apakah artikelnya mudah dipahami?

Apakah pembahasannya benar-benar menjawab pertanyaan?

Apakah ukuran paragrafnya nyaman dilihat di HP?

Apakah ada contoh yang membantu pembaca memahami isi artikel?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini bisa membuat kualitas tulisan meningkat jauh dibanding hanya mengejar jumlah kata.

6. Tidak Memperbarui Artikel Lama

Ini kesalahan yang sering terjadi pada blog yang sudah berjalan beberapa tahun.

Artikel dibiarkan begitu saja, padahal informasi di dalamnya sudah mulai berubah.

Misalnya artikel SEO yang masih membahas algoritma lama tanpa menyinggung perkembangan seperti AI Overview atau Generative Engine Optimization (GEO).

Kalau memang ada informasi baru yang relevan, jangan ragu memperbarui artikel lama.

Selain lebih bermanfaat untuk pembaca, artikel juga punya peluang mempertahankan performanya di mesin pencari.

FAQ

Apakah artikel panjang selalu lebih bagus untuk SEO?

Belum tentu. Yang paling penting adalah artikelnya mampu menjawab kebutuhan pembaca. Ada topik yang cukup dijelaskan dalam 700 kata, ada juga yang membutuhkan lebih dari 2.000 kata.

Apakah kata kunci masih penting?

Masih. Tapi penggunaannya sebaiknya natural. Hindari mengulang kata kunci secara berlebihan hanya karena ingin mengejar ranking di mesin pencari.

Apakah AI bisa membaca isi artikel?

Bisa. Selain mesin pencari seperti Google, AI seperti ChatGPT, Gemini, dan Perplexity juga menganalisis struktur, konteks, dan kualitas informasi dalam sebuah artikel. Karena itu, fokuslah membuat konten yang benar-benar bermanfaat, bukan sekadar mengejar algoritma.

Penutup

Menulis artikel yang baik bukan lagi soal siapa yang paling sering memasukkan kata kunci atau siapa yang berhasil menulis paling banyak. Yang lebih penting adalah bagaimana artikel tersebut bisa membantu pembaca menemukan jawaban yang mereka cari.

Kalau pembaca merasa terbantu, mereka akan lebih betah berada di website, lebih mungkin membagikan artikelmu ke orang lain, bahkan kembali lagi saat membutuhkan informasi berikutnya. Pada akhirnya, pengalaman pembaca yang baik juga menjadi salah satu fondasi penting untuk membangun performa website dalam jangka panjang.