Menjalankan Google Ads untuk pertama kalinya bisa terasa seperti masuk ke ruangan yang isinya banyak tombol. Ada keyword, bidding, conversion, ad assets, audience, landing page, sampai berbagai laporan performa yang angkanya bisa berubah-ubah setiap hari.
Kalau baru mulai, wajar kalau hasil campaign belum langsung sesuai harapan. Justru dari proses mencoba, membaca data, lalu melakukan optimasi secara bertahap, kita bisa belajar strategi mana yang cocok untuk bisnis yang sedang dijalankan.
Yang perlu dihindari adalah menjalankan iklan hanya dengan prinsip "yang penting tayang". Google Ads tetap membutuhkan perencanaan agar budget yang dikeluarkan bisa digunakan untuk menjangkau orang yang memang berpotensi menjadi customer.
Nah, kalau kamu sedang belajar Google Ads atau ingin memperbaiki campaign yang sudah berjalan, berikut beberapa hal yang menurut saya penting untuk diperhatikan.
1. Tentukan Tujuan Campaign dengan Jelas
Sebelum membuka Google Ads dan mulai membuat campaign, tentukan dulu apa yang sebenarnya ingin dicapai.
Apakah ingin mendapatkan lebih banyak penjualan? Leads? Telepon dari calon customer? Pendaftaran? Kunjungan ke toko fisik? Atau mungkin ingin meningkatkan awareness terhadap sebuah produk atau brand?
Tujuan ini penting karena akan memengaruhi bagaimana campaign dibuat, siapa yang ditargetkan, conversion apa yang perlu diukur, sampai strategi bidding yang digunakan.
Misalnya, bisnis jasa terapi wicara mungkin lebih membutuhkan leads berupa orang yang mengisi formulir atau menghubungi WhatsApp dibandingkan sekadar mendapatkan traffic sebanyak-banyaknya.
Jadi, jangan sampai kita senang karena traffic naik, padahal tidak ada satu pun orang yang akhirnya melakukan tindakan yang memang kita inginkan.
2. Buat Landing Page yang Relevan
Iklan yang bagus hanya akan membawa calon customer sampai ke pintu. Setelah itu, landing page yang akan menentukan apakah mereka mau masuk atau justru pergi.
Saat membuat campaign Google Ads, pastikan URL yang digunakan mengarah ke halaman yang relevan dengan isi iklan.
Misalnya kita membuat iklan dengan headline "Les Matematika SMP di Bekasi", jangan arahkan calon customer ke homepage yang hanya berisi informasi umum mengenai bisnis. Akan lebih baik jika mereka langsung diarahkan ke halaman yang menjelaskan layanan les matematika untuk SMP di Bekasi.
Landing page juga harus mudah digunakan, cepat dibuka, informasinya jelas, dan memiliki call to action yang mudah ditemukan.
Bayangkan kalau seseorang sudah tertarik dengan iklan, mengkliknya, lalu masuk ke halaman yang loading-nya lama dan tidak menemukan informasi yang dicari. Kemungkinan besar mereka akan langsung menutup halaman tersebut.
Karena itu, optimasi Google Ads sebaiknya tidak berhenti di iklan. Landing page juga perlu diperhatikan.
3. Gunakan Kata Kunci yang Tepat
Untuk campaign Search, keyword masih menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan. Jangan hanya memilih kata kunci berdasarkan volume pencarian yang tinggi.
Kata kunci dengan volume besar memang terlihat menarik, tapi belum tentu menghasilkan customer yang kita inginkan.
Misalnya kita memiliki toko mainan di Bekasi. Kata kunci "toko mainan" mungkin memiliki pencarian yang cukup tinggi, tapi sifatnya masih sangat umum.
Kita bisa mencoba kata kunci yang lebih spesifik seperti:
- toko mainan Bekasi
- toko mainan di Bekasi
- toko mainan anak Bekasi
- toko mainan dekat saya
Kata kunci yang lebih spesifik seperti ini bisa membantu kita menjangkau orang dengan kebutuhan yang lebih jelas.
Selain memilih keyword, perhatikan juga search intent. Jangan sampai keyword yang dipilih memiliki banyak traffic tetapi orang yang mencarinya sebenarnya tidak memiliki niat untuk membeli.
4. Manfaatkan Smart Bidding dengan Data yang Tepat
Google Ads saat ini semakin banyak menggunakan machine learning untuk membantu proses bidding. Salah satunya melalui Smart Bidding, yaitu strategi bidding otomatis yang menggunakan berbagai sinyal untuk mengoptimalkan bid berdasarkan kemungkinan terjadinya conversion.
Beberapa strategi seperti Maximize Conversions dan Maximize Conversion Value dapat digunakan sesuai dengan tujuan campaign.
Tapi, bukan berarti kita tinggal mengaktifkan automated bidding lalu meninggalkannya begitu saja.
Data conversion yang digunakan harus benar. Kalau conversion tracking belum beres atau yang dianggap sebagai conversion ternyata tidak benar-benar penting bagi bisnis, sistem juga akan belajar dari data yang kurang tepat.
Jadi, sebelum mengandalkan otomatisasi, pastikan conversion tracking sudah dipasang dan conversion yang diukur memang memiliki nilai bagi bisnis.
Otomatis bukan berarti tidak perlu dipantau.
5. Gunakan Ad Assets
Ad Assets, yang dulu lebih dikenal sebagai Ad Extensions, dapat membantu membuat iklan menjadi lebih informatif dan memberikan lebih banyak pilihan kepada calon customer untuk berinteraksi.
Contohnya, kita bisa menggunakan:
- Sitelink untuk mengarahkan audiens ke halaman tertentu
- Call Asset untuk menampilkan nomor telepon
- Location Asset untuk membantu bisnis lokal menunjukkan lokasi
- Image Asset untuk menambahkan visual
- Promotion Asset untuk menampilkan promo tertentu
- Price Asset untuk menampilkan harga produk atau layanan
Jenis Ad Assets yang tersedia dan cara tampilnya dapat berbeda tergantung campaign, format iklan, dan konteks pencarian.
Karena itu, jangan sekadar memasang semua asset yang tersedia. Pilih yang memang relevan dengan tujuan campaign dan bisnis.
Misalnya, bisnis jasa yang sangat mengandalkan konsultasi melalui telepon tentu bisa mendapatkan manfaat dari Call Asset. Sementara bisnis lokal bisa mempertimbangkan Location Asset agar calon customer lebih mudah menemukan lokasi usahanya.
6. Gunakan Negative Keyword
Salah satu hal yang sering terlupakan saat menjalankan campaign Search adalah negative keyword.
Negative keyword digunakan untuk mencegah iklan muncul pada pencarian tertentu yang tidak relevan dengan produk atau jasa yang ditawarkan.
Misalnya kita memiliki toko mainan yang hanya menjual mainan anak. Kita tidak menjual ATK, buku sekolah, atau pakaian anak.
Kita bisa mempertimbangkan kata-kata yang tidak relevan seperti:
- atk
- alat tulis
- buku sekolah
- pakaian anak
Tentu saja daftar negative keyword tidak bisa dibuat asal. Kita perlu melihat search terms yang benar-benar digunakan orang untuk menemukan iklan kita.
Dengan rutin memeriksa search terms, kita bisa menemukan pencarian yang tidak relevan dan menambahkannya sebagai negative keyword jika memang diperlukan.
Cara ini bisa membantu mengurangi klik yang tidak memiliki potensi untuk menghasilkan conversion.
7. Analisis Data dan Terus Perbaiki Strategi
Campaign yang sudah berjalan bukan berarti pekerjaan selesai.
Justru setelah iklan mendapatkan data, kita memiliki bahan untuk mengetahui apa yang bekerja dan apa yang perlu diperbaiki.
Beberapa hal yang bisa diperhatikan antara lain:
- conversion
- conversion rate
- cost per conversion
- CTR
- search terms
- keyword performance
- landing page performance
- lokasi
- perangkat yang digunakan
- waktu atau hari tertentu
- dan metrik lain yang sesuai dengan tujuan campaign
Google Ads juga dapat dihubungkan dengan Google Analytics untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap mengenai apa yang dilakukan pengguna setelah mengklik iklan.
Misalnya, ternyata keyword tertentu menghasilkan banyak klik tetapi hampir tidak pernah menghasilkan conversion. Sementara keyword lain memiliki traffic yang lebih sedikit tetapi conversion-nya jauh lebih tinggi.
Kalau hanya melihat jumlah klik, kita mungkin menganggap keyword pertama lebih bagus.
Padahal kalau tujuan campaign adalah mendapatkan customer, ceritanya bisa sangat berbeda.
Karena itu, jangan hanya mengejar angka yang terlihat bagus. Lihat data berdasarkan tujuan bisnis.
Google Ads Itu Bukan Sekadar Pasang Iklan
Kalau dirangkum, membuat campaign Google Ads yang efektif membutuhkan lebih dari sekadar memasukkan keyword lalu menekan tombol publish.
Kita perlu menentukan tujuan yang jelas, memastikan landing page relevan, memilih keyword berdasarkan search intent, menggunakan bidding dan automation dengan data yang benar, memanfaatkan Ad Assets, menyaring pencarian melalui negative keyword, lalu rutin membaca data untuk melakukan optimasi.
Dan yang paling penting, jangan berharap satu strategi akan langsung sempurna sejak hari pertama.
Google Ads memang bisa memberikan hasil yang cepat dibandingkan beberapa strategi digital marketing lainnya, tapi bukan berarti kita bisa langsung tahu campaign terbaik hanya dalam satu kali percobaan. Testing, analisis, dan optimasi tetap diperlukan.
Kalau baru mulai, tidak perlu langsung mencoba semuanya sekaligus. Mulai dari campaign yang sederhana, pastikan tracking-nya benar, kumpulkan data, lalu gunakan data tersebut untuk membuat keputusan berikutnya.
Dengan begitu, kita bukan hanya menjalankan iklan, tapi benar-benar belajar bagaimana membuat budget iklan bekerja lebih efektif untuk bisnis.
Semoga tips membuat campaign Google Ads ini bisa membantu kamu yang sedang belajar atau ingin memperbaiki campaign yang sudah berjalan. Selamat mencoba dan jangan takut bereksperimen, selama eksperimennya tetap berdasarkan data dan tujuan yang jelas.
