Kalau dulu mau promosi bisnis rasanya harus punya budget yang cukup besar. Mau pasang iklan di televisi, radio, koran, billboard, atau bahkan sekadar mencetak brosur saja sudah membutuhkan biaya.
Sekarang keadaannya sudah jauh berbeda.
Dengan adanya internet, kita bisa mempromosikan bisnis dengan budget yang jauh lebih fleksibel. Bahkan, kita bisa menentukan siapa yang ingin melihat iklan, di mana mereka berada, apa yang mungkin mereka sukai, sampai mengukur berapa banyak orang yang akhirnya melakukan pembelian atau menghubungi bisnis kita.
Salah satu cara yang cukup populer adalah menggunakan iklan digital dengan model PPC atau Pay Per Click.
Secara sederhana, PPC adalah model periklanan yang memungkinkan kita membayar berdasarkan tindakan tertentu, salah satunya klik pada iklan. Tapi sekarang sistem iklan digital sudah semakin berkembang. Kita juga bisa memilih tujuan lain seperti mendapatkan leads, konversi, traffic, video views, atau sekadar meningkatkan awareness.
Nah, bagian ini yang menurutku menarik.
Kita bukan cuma memasang iklan lalu berharap ada yang membeli. Setelah iklan berjalan, kita bisa melihat datanya dan mencoba mencari tahu apa yang berhasil dan apa yang ternyata tidak bekerja dengan baik.
Tapi, apakah semua platform iklan cocok untuk semua bisnis?
Tentu saja tidak.
Setiap platform punya karakteristik audiens dan cara kerja yang berbeda. Jadi, menurutku daripada langsung mencoba semua platform sekaligus dan akhirnya bingung mengatur budget, lebih baik pilih dulu platform yang memang paling masuk akal untuk bisnis kita.
Berikut beberapa platform yang bisa dicoba.
1. Google Ads
Kalau membicarakan iklan digital, Google Ads mungkin menjadi salah satu platform pertama yang terpikirkan.
Alasannya cukup sederhana. Hampir setiap hari kita menggunakan Google untuk mencari sesuatu.
Misalnya sedang mencari "les matematika Garut", "jasa renovasi rumah", "toko bunga terdekat", atau "sepatu running pria". Orang yang mengetikkan kata kunci seperti ini biasanya sudah memiliki kebutuhan tertentu.
Nah, di sinilah Google Ads bisa menjadi menarik.
Kita bisa menampilkan iklan ketika seseorang sedang mencari kata kunci yang berkaitan dengan produk atau jasa yang kita tawarkan. Jadi, dibandingkan hanya memperkenalkan produk kepada orang secara random, kita bisa mencoba menjangkau orang yang memang sedang mencari sesuatu.
Tapi bukan berarti tinggal memasukkan keyword lalu iklan langsung sukses, ya.
Ada banyak hal yang tetap perlu diperhatikan seperti keyword yang digunakan, match type, negative keyword, kualitas iklan, landing page, bidding, Ad Assets, sampai conversion tracking.
Google Ads juga sekarang tidak hanya soal Search Ads. Ada berbagai jenis campaign yang bisa digunakan untuk kebutuhan berbeda, termasuk iklan di YouTube, Google Display Network, Shopping, dan berbagai properti Google lainnya.
Jadi, kalau aku ingin mulai belajar digital advertising dari dasar, Google Ads menurutku cukup menarik untuk dipelajari karena kita bisa melihat hubungan antara pencarian, iklan, klik, sampai konversi dengan cukup jelas.
2. Meta Ads
Kalau Google Ads lebih banyak menangkap orang yang sedang mencari sesuatu, Meta Ads menurutku punya pendekatan yang sedikit berbeda.
Meta Ads mencakup iklan di ekosistem Meta, terutama Facebook dan Instagram. Tergantung campaign dan pengaturannya, iklan juga bisa muncul di berbagai placement lain yang tersedia di ekosistem Meta.
Misalnya begini.
Kamu punya bisnis skincare. Orang yang melihat iklanmu di Instagram mungkin sebenarnya sedang tidak mencari skincare sama sekali.
Mereka awalnya cuma sedang scroll.
Tapi karena melihat video yang menarik, before-after yang bikin penasaran, review dari customer, atau konten yang membahas masalah kulit yang sedang mereka alami, akhirnya mereka berhenti dan melihat produkmu.
Menurutku, ini yang membuat Meta Ads menarik.
Kita bisa memperkenalkan produk kepada orang yang mungkin belum sedang mencarinya, tapi sebenarnya punya kemungkinan tertarik.
Karena itu, materi iklan di Meta juga sangat penting. Jangan hanya sibuk mengatur targeting tetapi lupa memikirkan kontennya.
Apalagi sekarang orang sudah terbiasa melihat banyak sekali konten setiap harinya. Kalau iklannya terlihat terlalu seperti iklan, bisa saja orang langsung scroll lagi.
Makanya, format seperti video pendek, Reels, Stories, carousel, sampai konten yang terasa seperti konten biasa bisa dimanfaatkan sesuai kebutuhan campaign.
Selain Facebook dan Instagram, ekosistem Meta juga terus berkembang. Jadi, kalau sedang membuat campaign, sebaiknya cek kembali placement yang tersedia di Ads Manager karena fitur dan penempatannya bisa berubah.
3. TikTok Ads
Kalau membicarakan platform yang sangat identik dengan video pendek, tentu TikTok tidak bisa dilewatkan.
Awalnya mungkin banyak yang menganggap TikTok hanya tempat untuk melihat video hiburan. Tapi sekarang, orang juga menggunakan TikTok untuk mencari informasi, menemukan produk, melihat review, mencari rekomendasi tempat makan, sampai menemukan bisnis yang sebelumnya belum pernah mereka kenal.
Karena itu, TikTok juga bisa menjadi salah satu tempat yang menarik untuk beriklan.
Tapi ada satu hal yang menurutku perlu diperhatikan.
Jangan membuat iklan TikTok yang terasa seperti iklan banget.
Kalau dari detik pertama sudah terlihat seperti iklan yang terlalu formal, orang mungkin langsung melewatinya.
Coba buat videonya lebih natural. Bisa menggunakan storytelling, edukasi singkat, pengalaman customer, demo produk, behind the scene, atau format lain yang memang cocok dengan gaya konten di TikTok.
Misalnya punya bisnis makanan, jangan cuma membuat video yang berkata:
"Yuk beli produk kami!"
Mungkin akan lebih menarik kalau videonya menunjukkan proses pembuatan makanan, memperlihatkan teksturnya dari dekat, cerita kenapa produk tersebut dibuat, atau menunjukkan reaksi orang yang mencobanya.
Jadi, produknya tetap muncul, tapi orang mendapatkan alasan untuk menonton videonya terlebih dahulu.
Dan satu lagi, jangan menganggap TikTok hanya cocok untuk bisnis yang targetnya anak muda.
Tetap lihat data target audiens dan karakteristik bisnismu. Kalau memang audiens yang ingin dituju aktif di TikTok dan produkmu cocok dipromosikan melalui video pendek, kenapa tidak dicoba?
Harus Pakai Semuanya?
Menurutku, tidak perlu.
Justru kalau baru mulai, menggunakan terlalu banyak platform sekaligus bisa bikin kita kewalahan.
Bayangkan harus mengurus Google Ads, Meta Ads, TikTok Ads, membuat materi iklan, mengecek laporan, melakukan testing, memperbaiki landing page, dan masih harus mengurus bisnisnya juga.
Bisa-bisa belum sempat optimasi, sudah capek duluan.
Lebih baik lihat dulu bagaimana calon customer biasanya menemukan bisnismu.
Kalau orang memang aktif mencari produk atau jasa yang kamu tawarkan di Google, Google Ads bisa menjadi pilihan yang menarik.
Kalau produkmu lebih mudah menarik perhatian melalui visual dan kamu ingin menjangkau orang berdasarkan karakteristik atau minat tertentu, Meta Ads bisa dicoba.
Kalau produkmu cocok dibuat dalam format video pendek dan audiensmu memang aktif di TikTok, TikTok Ads juga bisa menjadi pilihan.
Bahkan, ketiganya juga bisa digunakan bersamaan kalau memang sudah punya budget dan strategi yang cukup.
Misalnya, Google Ads digunakan untuk menangkap orang yang memang sedang mencari produk. Setelah itu, Meta Ads atau TikTok Ads bisa digunakan untuk membangun awareness atau menjangkau kembali audiens yang sebelumnya sudah berinteraksi dengan bisnis.
Tapi sekali lagi, tidak harus langsung semuanya.
Menurutku lebih baik memahami satu platform terlebih dahulu, tahu cara membaca datanya, melakukan testing, lalu perlahan mencoba platform lainnya.
Kesimpulan
Ada banyak sekali pilihan platform untuk melakukan iklan digital dan tidak semuanya harus digunakan oleh satu bisnis.
Google Ads, Meta Ads, dan TikTok Ads bisa menjadi tiga pilihan yang cukup menarik untuk dipelajari. Masing-masing memiliki cara kerja yang berbeda, jadi jangan hanya memilih berdasarkan platform mana yang sedang ramai digunakan.
Coba lihat dari mana calon customer biasanya menemukan bisnismu, bagaimana cara mereka mengambil keputusan, konten seperti apa yang mereka sukai, dan tentu saja berapa budget yang bisa kamu siapkan.
Setelah iklan berjalan, jangan cuma melihat apakah iklannya ramai atau tidak. Lihat juga data lainnya seperti biaya per hasil, conversion rate, kualitas traffic, sampai apakah traffic tersebut benar-benar menghasilkan sesuatu untuk bisnis.
Karena menurutku, iklan yang bagus bukan cuma iklan yang mendapatkan banyak klik.
Kalau kliknya banyak tapi tidak ada yang membeli, mengisi form, menghubungi bisnis, atau melakukan hal yang memang kita inginkan, tetap perlu dievaluasi lagi.
Jadi, jangan takut untuk mencoba, tapi jangan lupa juga untuk melihat datanya.
Semoga artikel ini bisa membantu kamu yang sedang mencari platform PPC untuk bisnis. Selamat mencoba dan sampai jumpa di artikel berikutnya!
