Mendapatkan customer sekarang rasanya memang semakin menantang.
Bukan berarti produknya harus jelek dulu baru susah mendapatkan customer. Kadang produknya sudah bagus, pelayanan juga oke, tapi ternyata kompetitor punya strategi pemasaran yang lebih menarik dan lebih sering muncul di depan calon customer.
Dulu, mungkin kita masih bisa mengandalkan iklan di koran, radio, televisi, brosur, kartu nama, atau cara-cara offline lainnya. Sekarang pilihan untuk memasarkan bisnis sudah jauh lebih luas karena hampir semua orang terhubung dengan internet.
Nah, salah satu strategi yang menurutku cukup menarik untuk dicoba adalah PPC atau Pay Per Click.
PPC bisa membantu bisnis menjangkau orang yang memang berpotensi tertarik dengan produk atau jasa yang ditawarkan. Kita juga bisa melihat data dari iklan yang berjalan sehingga tidak hanya mengandalkan feeling saat menentukan strategi pemasaran.
Tapi sebelum membahas strateginya, sebenarnya PPC itu apa?
Apa Itu PPC?
Kalau pernah membaca artikel sebelumnya tentang platform PPC, mungkin sudah sedikit familiar dengan istilah ini.
PPC merupakan salah satu model periklanan digital yang pada awalnya sangat identik dengan pembayaran berdasarkan klik. Jadi, pengiklan membayar ketika seseorang mengklik iklan yang ditampilkan.
Tapi sekarang sistem periklanan digital sudah berkembang cukup jauh.
Platform seperti Google Ads dan Meta Ads memiliki berbagai pilihan campaign dan strategi bidding yang tidak selalu berfokus pada klik. Kita juga bisa mengoptimalkan campaign untuk mendapatkan konversi, leads, impressions, video views, dan tujuan lainnya.
Jadi, menurutku kurang tepat kalau PPC sekarang hanya dipahami sebagai "bayar kalau ada yang klik".
Yang lebih penting justru bagaimana kita menentukan tujuan campaign dan memilih strategi yang sesuai dengan tujuan tersebut.
Misalnya, kalau ingin mendapatkan orang yang sedang mencari jasa tertentu, kita bisa memanfaatkan Google Ads untuk menjangkau pencarian yang relevan.
Kalau ingin memperkenalkan produk kepada orang yang mungkin belum sedang mencarinya, kita bisa memanfaatkan platform seperti Meta Ads atau TikTok Ads untuk menjangkau audiens berdasarkan berbagai sinyal dan karakteristik yang tersedia.
Menarik, kan?
Apa Manfaat Menggunakan PPC?
Salah satu hal yang aku suka dari iklan digital adalah kita bisa mendapatkan data yang jauh lebih jelas dibandingkan sekadar memasang iklan lalu menunggu.
Beberapa manfaat yang bisa didapatkan dari PPC antara lain:
- Menjangkau audiens yang lebih spesifik sesuai dengan targeting dan tujuan campaign.
- Mengatur budget sesuai kemampuan bisnis dan melakukan penyesuaian berdasarkan hasil campaign.
- Mengukur performa iklan, mulai dari impressions, clicks, leads, hingga conversion.
- Melakukan testing terhadap berbagai materi iklan, targeting, landing page, maupun strategi bidding.
- Mendatangkan traffic ke website atau landing page ketika campaign memang dioptimalkan untuk tujuan tersebut.
- Membantu meningkatkan awareness karena bisnis bisa muncul di berbagai tempat yang sering digunakan target audiens.
Tapi ada satu hal yang menurutku penting untuk diingat.
PPC bukan berarti kita memasang iklan hari ini, besok langsung mendapatkan banyak customer.
Tetap ada proses testing dan optimasi. Bahkan kadang kita baru tahu strategi mana yang cocok setelah mencoba beberapa pendekatan.
Nah, strategi apa saja yang bisa dicoba?
1. Jangan Terpaku pada Satu Platform
Kalau hanya mengandalkan satu platform untuk mendapatkan customer, sebenarnya tidak salah.
Tapi kalau memang target audiens kita tersebar di beberapa platform, menurutku sayang juga kalau tidak mencoba memanfaatkannya.
Misalnya, orang yang mencari jasa tertentu bisa kita jangkau melalui Google Ads. Sementara orang yang belum tahu bisnis kita bisa diperkenalkan melalui Meta Ads atau TikTok Ads.
Bahkan, beberapa platform bisa digunakan untuk tujuan yang berbeda.
Google Ads misalnya, bisa digunakan untuk menangkap demand ketika orang memang sedang mencari sesuatu. Sementara Meta Ads atau TikTok Ads bisa digunakan untuk memperkenalkan produk dan membangun awareness melalui konten visual.
Tapi bukan berarti harus langsung pasang iklan di semua platform.
Kalau baru mulai, aku justru lebih menyarankan untuk memilih satu atau dua platform yang paling masuk akal untuk target audiens dan budget kita. Setelah mulai memahami datanya, baru perlahan dikembangkan.
2. Coba Gunakan Video
Sekarang hampir semua platform iklan besar sudah sangat akrab dengan format video.
Kita bisa melihat iklan video ketika sedang menonton YouTube, scrolling Instagram, Facebook, TikTok, dan berbagai platform lainnya.
Menurutku, video juga menarik karena kita bisa menyampaikan lebih banyak hal dalam waktu yang cukup singkat.
Tidak harus membuat video yang super profesional juga.
Video sederhana yang menjelaskan produk, menunjukkan cara penggunaan, memberikan tutorial, memperlihatkan hasil sebelum dan sesudah, menampilkan testimonial, atau sekadar menceritakan masalah yang bisa diselesaikan oleh produk kita juga bisa menjadi materi iklan.
Untuk platform yang mayoritas penggunanya menggunakan smartphone, format vertikal juga bisa dipertimbangkan karena memang lebih sesuai dengan kebiasaan scrolling.
Yang paling penting, jangan membuat video hanya karena "katanya video lebih bagus".
Tetap lihat datanya. Kalau ternyata format tertentu menghasilkan performa yang lebih baik, kita bisa mengembangkan format tersebut.
3. Manfaatkan Remarketing
Pernah enggak sih kita mengunjungi sebuah website, melihat produknya sebentar, lalu beberapa waktu kemudian iklannya muncul lagi di tempat lain?
Nah, itu salah satu contoh sederhana dari remarketing.
Remarketing memungkinkan kita menjangkau kembali orang yang sebelumnya sudah berinteraksi dengan bisnis, misalnya pernah mengunjungi website atau melakukan interaksi tertentu.
Menurutku strategi ini cukup masuk akal karena orang tersebut setidaknya sudah pernah mengenal bisnis kita.
Misalnya seseorang sudah melihat produk di website, tetapi belum membeli. Daripada kita terus mencari orang baru, kita juga bisa mencoba menjangkau kembali orang yang sebelumnya sudah menunjukkan ketertarikan tersebut.
Tentu saja implementasinya tergantung platform, data yang tersedia, consent pengguna, dan pengaturan tracking yang digunakan. Jadi, jangan asal memasang tracking tanpa memahami aturan dan pengaturannya.
4. Manfaatkan Otomatisasi, Tapi Jangan Lepas Tangan
Sekarang ini hampir tidak mungkin membahas digital advertising tanpa membicarakan AI dan otomatisasi.
Google Ads misalnya, sudah memiliki berbagai fitur otomatisasi dan machine learning untuk membantu menentukan bidding, targeting, campaign optimization, dan berbagai hal lainnya.
Salah satu contohnya adalah Smart Bidding, yang menggunakan machine learning untuk mengoptimalkan bid berdasarkan kemungkinan terjadinya konversi atau nilai konversi.
Fitur seperti ini memang sangat membantu, terutama ketika data campaign sudah cukup.
Tapi menurutku, otomatisasi bukan berarti kita tinggal menyalakan campaign lalu meninggalkannya.
Tetap perlu dilihat apakah conversion tracking sudah benar, apakah budget masih masuk akal, apakah traffic yang datang memang relevan, dan apakah hasil akhirnya sesuai dengan tujuan bisnis.
AI boleh membantu pekerjaan kita, tapi bukan berarti semua keputusan harus diserahkan begitu saja kepada mesin.
5. Kenali Audiens, Jangan Cuma Sibuk Mencari Keyword
Keyword memang penting, terutama kalau kita menggunakan Google Ads.
Tapi jangan sampai kita terlalu sibuk mencari keyword dengan volume tinggi sampai lupa siapa sebenarnya orang yang ingin kita dapatkan.
Misalnya kita menjual jasa les matematika.
Keyword "belajar matematika" mungkin memiliki banyak pencarian. Tapi orang yang mencari keyword tersebut belum tentu sedang mencari jasa les. Bisa saja mereka sedang mencari rumus, contoh soal, materi sekolah, atau bahkan video gratis.
Sementara orang yang mencari "les matematika SMP di Garut" mungkin jumlah pencariannya jauh lebih kecil.
Tapi intent-nya bisa jauh lebih dekat dengan tujuan bisnis.
Jadi, menurutku saat membuat campaign, pertanyaan yang perlu dipikirkan bukan cuma:
"Keyword apa yang paling banyak dicari?"
Tapi juga:
"Orang yang mencari keyword ini sebenarnya sedang membutuhkan apa?"
Dari sini kita bisa membuat iklan yang lebih relevan dan menawarkan solusi yang memang sesuai dengan kebutuhan mereka.
6. Jangan Lupa Mengecek Landing Page
Iklan sudah bagus, targeting sudah tepat, orang akhirnya mengklik iklan...
Tapi ternyata landing page-nya lambat, informasinya tidak jelas, atau bahkan tidak sesuai dengan isi iklan.
Sayang banget, kan?
Makanya, menurutku optimasi PPC tidak berhenti di iklan.
Kalau iklan menawarkan "Jasa Les Matematika SMP di Garut", ketika diklik seharusnya orang langsung menemukan informasi mengenai jasa tersebut. Jangan malah diarahkan ke homepage yang isinya terlalu umum dan membuat mereka harus mencari-cari lagi.
Semakin mudah orang menemukan informasi yang mereka butuhkan, semakin kecil kemungkinan mereka langsung pergi.
Jadi, coba lihat perjalanan customer dari awal.
Mereka melihat iklan → tertarik → klik → masuk ke landing page → mencari informasi → melakukan tindakan yang kita inginkan.
Kalau ada satu bagian yang bermasalah, campaign secara keseluruhan juga bisa ikut terdampak.
7. Pantau Budget dan Hasilnya Secara Rutin
Ini mungkin terdengar sederhana, tapi jangan sampai kita lupa.
Budget iklan harus tetap dipantau.
Jangan hanya melihat "hari ini dapat 100 klik" lalu menganggap campaign berhasil. Coba lihat lebih jauh.
Dari 100 klik tersebut, berapa yang benar-benar menjadi leads?
Berapa yang melakukan pembelian?
Berapa biaya untuk mendapatkan satu customer?
Apakah customer yang didapat memang menguntungkan untuk bisnis?
Karena menurutku, jumlah klik yang tinggi belum tentu berarti campaign berhasil.
Kalau menghabiskan Rp1 juta untuk mendapatkan banyak klik tetapi tidak ada satu pun yang menjadi customer, tentu perlu dievaluasi lagi.
Sebaliknya, campaign yang mendapatkan klik lebih sedikit tetapi berhasil menghasilkan customer dengan biaya yang masuk akal justru bisa jadi lebih menguntungkan.
Makanya, jangan hanya mengejar angka yang terlihat bagus di dashboard.
Lihat juga hasil akhirnya.
Kesimpulan
Ada banyak strategi yang bisa dicoba dalam menjalankan PPC, mulai dari menggunakan beberapa platform, mencoba format video, memanfaatkan remarketing, menggunakan otomatisasi, memahami audiens, memperbaiki landing page, sampai rutin mengevaluasi budget dan hasil campaign.
Tapi menurutku, tidak ada satu strategi yang pasti berhasil untuk semua bisnis.
Apa yang berhasil untuk bisnis A belum tentu berhasil untuk bisnis B.
Karena itu, jangan takut untuk melakukan testing. Coba satu strategi, lihat datanya, evaluasi, lalu perbaiki lagi. Dari proses seperti inilah kita biasanya mulai menemukan pola yang paling cocok untuk bisnis kita.
Dan yang paling penting, jangan hanya bertanya "berapa banyak orang yang mengklik iklan?"
Coba tanyakan juga:
"Apakah orang yang mengklik ini memang orang yang aku cari?"
Kalau jawabannya iya dan mereka akhirnya melakukan tindakan yang memang kita inginkan, nah, dari situ campaign PPC mulai terasa benar-benar berguna.
Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa jadi bahan pertimbangan kalau kamu sedang ingin mulai mencoba PPC untuk bisnis. Sampai jumpa di artikel berikutnya :)
