Kalau ngomongin iklan online, biasanya perhatian kita lebih banyak tertuju ke iklannya. Mulai dari target audiens, budget, keyword, visual, sampai copywriting. Padahal, ada satu bagian yang sering banget terlupakan setelah orang mengklik iklan, yaitu landing page.
Coba bayangkan ada orang yang melihat iklan kita, tertarik, lalu akhirnya klik. Tapi setelah masuk ke website, ternyata halamannya lambat, informasinya susah ditemukan, desainnya berantakan, atau malah produk yang ditawarkan ga sesuai dengan ekspektasi dari iklan.
Kemungkinan besar orang tersebut akan langsung pergi.
Sayang banget, kan? Kita sudah bayar untuk mendapatkan klik, tapi orangnya malah kabur sebelum melakukan apa-apa.
Makanya, menurutku landing page itu ga bisa dianggap sebagai halaman pelengkap saja. Landing page justru menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan audiens dari melihat iklan → tertarik → klik → akhirnya melakukan konversi.
Nah, kalau kamu sedang menjalankan Google Ads atau iklan digital lainnya, berikut beberapa hal yang bisa diperhatikan saat membuat landing page agar peluang menghasilkan konversi menjadi lebih besar.
1. Pastikan Landing Page Memang Berguna
Hal pertama yang harus dipikirkan sebenarnya sederhana: landing page ini dibuat untuk membantu siapa?
Jangan sampai kita membuat landing page hanya karena "harus punya halaman tujuan iklan", tapi isinya malah tidak menjawab kebutuhan audiens.
Misalnya, kita memasang iklan dengan keyword "jasa renovasi rumah Jakarta". Ketika orang mengklik iklan, mereka tentu berharap menemukan informasi mengenai jasa renovasi rumah, area layanan, contoh hasil pekerjaan, estimasi atau cara mendapatkan penawaran.
Jangan malah diarahkan ke halaman homepage yang isinya campur aduk dan membuat mereka harus mencari-cari sendiri.
Aku biasanya akan melihat landing page dari sudut pandang orang yang baru pertama kali datang. Kalau aku sendiri bingung harus melakukan apa setelah masuk ke halaman tersebut, berarti ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
Beberapa hal yang bisa dilakukan:
- pahami kebutuhan dan masalah target audiens
- sesuaikan isi landing page dengan iklan
- jelaskan produk atau jasa dengan bahasa yang mudah dipahami
- tentukan satu tujuan utama dari halaman tersebut
- gunakan CTA yang jelas dan mudah ditemukan
Intinya, jangan membuat audiens bekerja terlalu keras hanya untuk memahami apa yang sebenarnya kita tawarkan.
2. Buat Landing Page yang Mudah Digunakan
Landing page yang terlihat bagus belum tentu nyaman digunakan.
Bisa saja desainnya keren, tetapi tombolnya susah ditemukan. Atau informasinya lengkap, tetapi loading-nya lama. Ada juga yang tampilannya bagus di desktop, tapi begitu dibuka melalui HP malah berantakan.
Hal-hal seperti ini mungkin terlihat kecil, tapi bisa mempengaruhi pengalaman audiens.
Apalagi sekarang sebagian besar orang mengakses internet melalui perangkat mobile. Jadi, jangan hanya mengecek landing page dari laptop atau komputer. Coba buka juga dari HP dan rasakan sendiri bagaimana pengalaman menggunakannya.
Beberapa hal yang bisa diperhatikan:
- gunakan layout yang sederhana dan mudah dipahami
- pastikan tombol CTA mudah ditemukan
- optimalkan kecepatan loading
- pastikan halaman responsive dan mobile-friendly
- gunakan ukuran teks yang nyaman dibaca
- jangan membuat form terlalu panjang jika memang tidak diperlukan
- pastikan semua tombol dan link bisa digunakan dengan baik
Kalau audiens harus mencari-cari tombol "Beli", "Daftar", "Hubungi Kami", atau "Pesan Sekarang", jangan heran kalau akhirnya mereka malah pergi.
3. Pastikan Informasi Penting Mudah Ditemukan
Landing page biasanya memiliki banyak informasi yang ingin kita tampilkan. Mulai dari keunggulan produk, harga, fitur, testimonial, FAQ, sampai informasi kontak.
Masalahnya, semua informasi tersebut tidak harus ditampilkan sekaligus di bagian paling atas.
Kita perlu mengatur informasi berdasarkan prioritas.
Misalnya, bagian awal landing page bisa menjelaskan:
Apa yang ditawarkan → siapa yang cocok menggunakan produk/jasa tersebut → apa manfaatnya → apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Setelah itu, baru kita berikan informasi pendukung seperti detail fitur, testimonial, FAQ, dan sebagainya.
Jangan membuat audiens harus scroll terlalu jauh hanya untuk menemukan informasi paling penting.
Aku juga menyarankan untuk menggunakan heading dan subheading yang jelas. Dengan begitu, orang yang hanya melakukan scanning pun tetap bisa memahami isi landing page tanpa harus membaca setiap kata.
4. Buat Tampilan yang Menarik, Tapi Jangan Berlebihan
Desain memang penting. Tapi landing page bukan lomba siapa yang punya desain paling ramai.
Tujuan utamanya tetap membuat audiens memahami produk atau jasa dan melakukan tindakan yang kita inginkan.
Jadi, pilih visual, warna, font, gambar, dan layout yang sesuai dengan bisnis serta target audiens.
Selain itu, copywriting juga punya peran besar.
Jangan hanya menulis:
"Kami adalah perusahaan terbaik dengan pelayanan nomor satu."
Kalimat seperti itu mudah dibuat oleh semua bisnis.
Akan lebih menarik jika kita menjelaskan apa yang membuat produk atau jasa tersebut bisa membantu audiens.
Misalnya:
- masalah apa yang bisa diselesaikan
- keuntungan apa yang didapatkan
- siapa yang cocok menggunakan produk tersebut
- apa yang membuat produk atau jasa kita berbeda
- apa yang harus dilakukan jika mereka tertarik
Jadi, bukan sekadar terlihat bagus, tetapi juga punya alasan yang membuat orang mau melanjutkan ke tahap berikutnya.
5. Tunjukkan Bahwa Bisnismu Bisa Dipercaya
Ada satu pertanyaan yang kemungkinan besar muncul di kepala calon customer saat membuka landing page:
"Ini beneran bisa dipercaya ga?"
Apalagi kalau mereka belum pernah mengenal bisnis kita sebelumnya.
Karena itu, jangan hanya menjelaskan betapa bagusnya produk atau jasa yang kita punya. Tunjukkan juga bukti yang bisa membuat audiens lebih yakin.
Misalnya:
- review customer
- testimonial
- foto hasil pekerjaan
- portfolio
- logo client
- jumlah customer
- penghargaan
- pengalaman menjalankan bisnis
- sertifikasi jika memang relevan
- informasi kontak yang jelas
Kalau punya testimonial yang bagus, jangan disimpan sendirian di folder. Tampilkan di landing page.
Bukti nyata biasanya jauh lebih meyakinkan daripada kita sendiri yang terus mengatakan bahwa bisnis kita bagus.
6. Jangan Lupakan Accessibility
Landing page yang baik seharusnya bisa digunakan oleh sebanyak mungkin orang, termasuk orang dengan disabilitas.
Accessibility atau aksesibilitas website kadang memang bukan hal pertama yang terpikir ketika kita sedang mengejar konversi. Padahal, membuat website lebih mudah diakses juga merupakan bagian dari pengalaman pengguna yang baik.
Salah satu contoh yang cukup sederhana adalah penggunaan ALT text pada gambar.
ALT text membantu memberikan informasi mengenai gambar kepada orang yang menggunakan screen reader dan juga berguna ketika gambar tidak dapat ditampilkan.
Selain itu, perhatikan juga hal-hal seperti:
- kontras antara teks dan background
- ukuran teks
- struktur heading
- penggunaan label pada form
- navigasi menggunakan keyboard
- teks pada tombol yang jelas
Kalau ingin mempelajari accessibility lebih jauh, kita bisa mengacu pada panduan dari Web Content Accessibility Guidelines (WCAG) yang dikembangkan oleh W3C.
7. Berikan Value yang Jelas
Nah, ini yang menurutku sering menjadi inti dari landing page.
Setelah audiens membaca seluruh halaman, mereka harus bisa menjawab pertanyaan:
"Aku dapat apa kalau menggunakan produk atau jasa ini?"
Value tersebut tidak selalu harus berupa diskon.
Bisa berupa produk yang menyelesaikan masalah tertentu, layanan yang menghemat waktu, proses yang lebih mudah, hasil yang lebih baik, konsultasi gratis, garansi, atau manfaat lain yang memang relevan dengan kebutuhan audiens.
Jadi, jangan hanya fokus menjelaskan fitur.
Coba ubah sudut pandangnya menjadi:
"Fitur ini bisa membantu customer mendapatkan apa?"
Misalnya kita menjual aplikasi pencatatan keuangan.
Daripada hanya mengatakan:
"Memiliki fitur laporan keuangan otomatis."
Kita bisa menjelaskan manfaatnya:
"Ga perlu lagi menghitung pemasukan dan pengeluaran satu per satu. Laporan keuangan bisa dibuat otomatis."
Fitur yang sama, tapi manfaatnya jadi jauh lebih terasa.
8. Pastikan Isi Iklan dan Landing Page Nyambung
Aku sengaja menambahkan poin ini karena menurutku penting banget, terutama kalau landing page digunakan untuk Google Ads atau platform iklan lainnya.
Jangan membuat iklan mengatakan satu hal, tapi begitu diklik audiens malah mendapatkan hal yang berbeda.
Misalnya iklannya:
"Kursus Bahasa Inggris Online untuk Pemula"
Tapi setelah diklik, audiens malah masuk ke halaman yang hanya menjelaskan semua jenis kursus yang tersedia tanpa informasi khusus untuk pemula.
Mereka akhirnya harus mencari lagi.
Lebih baik antara keyword, iklan, dan landing page dibuat selaras.
Kalau audiens mencari "kursus bahasa Inggris online untuk pemula", iklannya membahas kursus tersebut, dan landing page yang dibuka juga langsung memberikan informasi mengenai kursus untuk pemula.
Semakin relevan perjalanan tersebut, semakin kecil kemungkinan audiens merasa "ditipu" oleh iklan.
9. Jangan Takut Melakukan Testing
Landing page pertama yang kita buat belum tentu menjadi landing page terbaik.
Bahkan menurutku, jangan terlalu berharap landing page pertama langsung sempurna.
Kita bisa melakukan testing untuk melihat bagian mana yang lebih efektif. Misalnya menguji:
- headline
- CTA
- gambar
- copywriting
- panjang form
- penawaran
- posisi testimonial
- layout halaman
Setelah itu, lihat datanya.
Misalnya ternyata banyak orang yang masuk ke landing page tetapi sedikit yang mengisi form. Berarti kita perlu mencari tahu kenapa.
Apakah form terlalu panjang? CTA kurang jelas? Penawarannya kurang menarik? Atau informasi pentingnya justru tidak terlihat?
Jangan hanya menebak. Kalau ada datanya, gunakan data tersebut sebagai bahan untuk memperbaiki landing page.
Kesimpulan
Landing page ternyata punya peran yang cukup besar dalam keberhasilan iklan digital. Mendapatkan banyak klik memang bagus, tapi kalau orang yang sudah klik akhirnya tidak melakukan apa-apa, budget iklan juga bisa terbuang percuma.
Menurutku, landing page yang bagus ga harus selalu memiliki desain yang super kompleks. Yang lebih penting adalah relevan, mudah digunakan, informasinya jelas, bisa dipercaya, dan punya tujuan yang jelas.
Jadi, sebelum menyalahkan iklan karena konversinya rendah, coba cek juga landing page-nya.
Bisa jadi masalahnya bukan karena iklannya kurang bagus, tapi karena setelah orang masuk ke website, mereka malah bingung harus melakukan apa.
Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa langsung dicoba di landing page-mu. Sampai jumpa di artikel berikutnya :)
