Kalau pernah menjalankan Google Ads, kemungkinan besar kamu sudah pernah bertemu dengan Responsive Search Ads (RSA).
Format iklan ini cukup menarik karena kita ga perlu membuat satu iklan dengan satu headline dan satu deskripsi yang sudah terkunci. Di RSA, kita bisa memasukkan beberapa pilihan headline dan description, kemudian Google akan mengombinasikan berbagai elemen tersebut untuk menampilkan iklan yang paling relevan dengan pencarian audiens.
Jadi, tugas kita bukan cuma membuat satu iklan yang bagus.
Kita justru perlu menyiapkan beberapa aset iklan yang sama-sama bagus supaya Google punya cukup pilihan untuk melakukan kombinasi dan mencari mana yang paling sesuai.
Nah, justru di sini tantangannya.
Kalau semua headline yang kita masukkan ternyata isinya mirip-mirip, Google juga ga punya banyak pilihan untuk bereksperimen. Jadi, daripada sekadar memenuhi slot yang tersedia, lebih baik kita memanfaatkan RSA dengan strategi yang lebih terarah.
Berikut beberapa tips yang bisa dicoba.
1. Buat Headline yang Benar-Benar Beragam
RSA memungkinkan kita memasukkan hingga 15 headline. Tapi bukan berarti kita harus menulis 15 headline yang sebenarnya cuma berbeda satu-dua kata.
Kalau semua headline isinya kurang lebih sama, pilihan Google juga menjadi terbatas.
Coba buat headline dengan fungsi yang berbeda-beda.
Misalnya ada yang membahas:
- produk atau jasa
- target keyword
- manfaat produk
- keunggulan bisnis
- masalah yang ingin diselesaikan
- harga atau promo
- lokasi
- call-to-action
- kepercayaan atau kredibilitas bisnis
Contohnya, kalau kita punya bisnis jasa renovasi rumah, headline-nya bisa dibuat seperti:
- Jasa Renovasi Rumah
- Renovasi Rumah di Bekasi
- Konsultasi Renovasi Gratis
- Renovasi Sesuai Budget
- Berpengalaman Mengerjakan Rumah
- Hubungi Kami Sekarang
Jadi, jangan cuma membuat variasi seperti:
- "Jasa Renovasi Rumah"
- "Jasa Renovasi Rumah Terbaik"
- "Jasa Renovasi Rumah Profesional"
- "Jasa Renovasi Rumah Terpercaya"
Memang terlihat berbeda, tapi pesan yang diberikan sebenarnya masih sangat mirip.
Menurutku, lebih baik setiap headline punya "pekerjaan" masing-masing sehingga Google memiliki lebih banyak bahan untuk dikombinasikan.
2. Jangan Membuat Semua Headline Panjang
Headline yang pendek bukan berarti jelek.
Kadang headline yang sangat sederhana justru lebih mudah dipahami ketika muncul di halaman hasil pencarian.
Karena itu, coba buat variasi headline dengan panjang yang berbeda. Ada yang pendek, sedang, dan ada juga yang lebih panjang.
Hal ini juga memberikan lebih banyak fleksibilitas kepada Google ketika melakukan kombinasi aset iklan.
Yang penting, jangan sengaja membuat kalimat panjang hanya supaya terlihat lengkap.
Kalau bisa disampaikan dengan tiga atau empat kata, ya ga perlu dipanjang-panjangkan.
Misalnya:
"Kursus Bahasa Inggris"
sudah cukup jelas.
Daripada dipaksakan menjadi:
"Ikuti Kursus Bahasa Inggris Online Terbaik Bersama Kami"
yang akhirnya malah terasa seperti iklan banget.
3. Buat Beberapa Description yang Saling Melengkapi
Selain headline, jangan lupa memanfaatkan bagian description.
RSA memungkinkan kita memasukkan beberapa pilihan description. Jadi, daripada membuat satu description lalu berhenti, lebih baik siapkan beberapa versi yang memiliki sudut pandang berbeda.
Misalnya satu description menjelaskan manfaat produk, satu membahas keunggulan, satu memberikan informasi tambahan, dan satu lagi mendorong audiens untuk melakukan action.
Contohnya:
Description 1:
"Temukan solusi renovasi rumah sesuai kebutuhan dan budget. Konsultasikan kebutuhanmu bersama tim kami."
Description 2:
"Mulai dari desain hingga pengerjaan, kami bantu proses renovasi rumah agar lebih praktis dan terarah."
Dengan begitu, Google memiliki beberapa pilihan yang bisa dikombinasikan dengan headline yang berbeda.
Tapi ada satu hal yang menurutku penting: jangan memasukkan description hanya demi memenuhi slot.
Pastikan setiap description memang memberikan informasi yang berguna.
4. Masukkan Keunggulan dan Manfaat, Bukan Cuma Keyword
Salah satu kesalahan yang cukup sering terjadi saat membuat iklan adalah terlalu fokus memasukkan keyword.
Keyword memang penting, tapi jangan sampai seluruh isi iklan hanya berisi keyword.
Coba pikirkan dari sudut pandang orang yang sedang melakukan pencarian.
Kalau mereka mengetik:
"jasa cuci sofa jakarta"
mereka kemungkinan bukan cuma ingin melihat tulisan "jasa cuci sofa Jakarta" berkali-kali.
Mereka mungkin sedang mencari tahu:
- apakah bisa datang ke rumah?
- berapa harganya?
- apakah bisa untuk sofa tertentu?
- berapa lama pengerjaannya?
- apakah ada garansi?
- apakah tersedia di area mereka?
Nah, informasi seperti itulah yang bisa kita masukkan ke headline dan description.
Jadi, keyword tetap ada, tapi jangan lupa menjelaskan kenapa orang harus memilih bisnis kita.
Aku biasanya lebih suka menganggap setiap headline dan description sebagai potongan puzzle.
Masing-masing harus punya informasi yang berguna. Ketika digabungkan, barulah menjadi iklan yang lengkap.
5. Gunakan CTA yang Jelas
Jangan membuat audiens menebak-nebak apa yang harus dilakukan setelah melihat iklan.
Kalau kita ingin mereka menghubungi bisnis, katakan.
Kalau ingin mereka membeli, arahkan untuk membeli.
Kalau ingin mereka melakukan konsultasi, berikan CTA yang sesuai.
Beberapa contoh CTA yang bisa digunakan:
- Hubungi Kami
- Pesan Sekarang
- Konsultasi Gratis
- Cek Harga
- Daftar Sekarang
- Lihat Produk
- Buat Janji
CTA juga bisa dikombinasikan dengan penawaran yang memang benar-benar tersedia.
Misalnya:
Konsultasi Gratis Hari Ini
atau
Dapatkan Promo Bulan Ini
Tapi jangan membuat urgency atau promo palsu hanya untuk mendapatkan klik. Kalau memang ada batas waktu atau jumlah tertentu, baru komunikasikan di iklan.
6. Gunakan Ad Strength dan Lakukan Pengujian
Google menyediakan Ad Strength untuk memberikan gambaran mengenai kualitas dan kelengkapan aset RSA yang kita masukkan.
Menurutku, fitur ini cukup membantu terutama kalau masih belajar membuat RSA. Tapi jangan menjadikan Ad Strength sebagai satu-satunya patokan keberhasilan iklan.
Ad Strength lebih cocok digunakan sebagai panduan ketika kita membuat aset iklan.
Pada akhirnya, yang lebih penting tetap performa campaign dan hasil bisnisnya.
Selain itu, jangan takut melakukan testing.
Kita bisa mencoba variasi headline, description, penawaran, CTA, maupun pesan yang berbeda lalu melihat bagaimana performanya.
Untuk eksperimen tertentu, Google Ads juga menyediakan fitur Ad variations yang dapat membantu menguji perubahan iklan pada campaign yang dipilih. Namun, ketersediaan dan cara penggunaannya bisa berubah mengikuti perkembangan Google Ads.
Jadi, kalau sedang melakukan testing, jangan langsung mengganti semua aset sekaligus.
Kalau terlalu banyak hal yang diubah dalam satu waktu, nanti kita malah bingung sendiri saat melihat hasilnya.
Jangan Terlalu Terpaku pada "Iklan Sempurna"
Ada satu hal lagi yang menurutku perlu ditekankan.
Saat membuat RSA, kita memang perlu menyiapkan headline dan description yang bagus. Tapi jangan sampai kita menghabiskan waktu terlalu lama hanya untuk mencari kombinasi kata yang menurut kita "sempurna".
Iklan tetap perlu dilihat dari data.
Bisa saja menurut kita headline A paling bagus, tapi ternyata headline B justru lebih banyak menghasilkan konversi.
Begitu juga sebaliknya.
Makanya, setelah campaign berjalan, lihat data dan gunakan hasilnya untuk menentukan apa yang perlu diperbaiki.
SEO, Google Ads, social media ads, semuanya menurutku punya satu kesamaan: jangan cuma mengandalkan feeling.
Feeling boleh dipakai untuk membuat hipotesis.
Tapi setelah itu, biarkan data yang membantu kita mengambil keputusan.
Kesimpulan
Responsive Search Ads memberikan cukup banyak ruang untuk bereksperimen dengan headline dan description. Karena itu, jangan cuma mengisi aset iklan sebanyak mungkin tanpa memikirkan isinya.
Buat headline yang benar-benar beragam, siapkan description yang saling melengkapi, masukkan manfaat dan keunggulan bisnis, gunakan CTA yang jelas, lalu manfaatkan Ad Strength dan testing sebagai bagian dari proses optimasi.
Dan yang paling penting, jangan berhenti hanya karena iklan sudah tayang.
Google Ads bukan tipe pekerjaan yang selesai setelah tombol Publish ditekan. Justru setelah campaign berjalan, kita bisa mulai melihat data, mencari pola, melakukan testing, lalu memperbaikinya lagi.
Semoga artikel ini membantu kamu yang sedang belajar atau mengelola Responsive Search Ads. Selamat mencoba dan sampai jumpa di artikel berikutnya :)
