Tips Membuat Call to Action (CTA) yang Efektif


Pernah ga sih kita sudah bikin konten, landing page, atau iklan yang menurut kita sudah bagus, tapi ternyata audiens cuma melihat lalu pergi begitu saja?

Kadang masalahnya bukan karena produknya kurang bagus atau iklannya ga menarik. Bisa saja audiens sebenarnya tertarik, tapi mereka bingung harus melakukan apa setelah melihatnya.

Nah, di sinilah Call to Action atau CTA punya peran penting.

CTA mungkin kelihatannya cuma beberapa kata. "Beli Sekarang", "Daftar Sekarang", "Pelajari Lebih Lanjut", atau "Hubungi Kami". Sederhana banget, kan?

Tapi jangan salah. Beberapa kata tersebut bisa menjadi bagian yang menentukan apakah audiens akhirnya melakukan tindakan atau cuma scroll ke konten berikutnya.

Jadi, sebenarnya apa itu CTA dan bagaimana cara membuatnya supaya lebih efektif?

Apa Itu Call to Action (CTA)?

Call to Action atau CTA adalah pesan yang dibuat untuk mengajak audiens melakukan tindakan tertentu.

Tindakannya bisa bermacam-macam, tergantung tujuan campaign atau konten yang kita buat.

Misalnya:

  • Membeli produk
  • Mengisi formulir
  • Menghubungi WhatsApp
  • Mendaftar newsletter
  • Mengunduh e-book
  • Mengunjungi website
  • Menambahkan produk ke keranjang
  • Melakukan booking
  • Membaca artikel
  • Mengikuti akun media sosial

CTA juga ga selalu berbentuk tombol.

CTA bisa berupa tombol di landing page, link dalam artikel, teks pada iklan, tulisan di caption media sosial, sampai kalimat yang kita ucapkan di akhir video.

Contohnya sederhana saja.

  • "Download panduannya di sini."
  • "Cek produknya sekarang."
  • "Hubungi kami untuk konsultasi."
  • "Pelajari selengkapnya."

Intinya, CTA membantu memberikan arahan kepada audiens mengenai langkah berikutnya.

Karena kadang audiens memang sudah tertarik, tapi mereka belum tentu tahu harus melakukan apa.

Kenapa CTA Penting?

Coba bayangkan kamu sedang melihat iklan sebuah produk yang menarik.

Kamu sudah membaca manfaatnya, melihat fotonya, bahkan mungkin sudah tertarik untuk membeli. Tapi di bagian akhir ga ada tombol, link, atau informasi apa pun mengenai langkah selanjutnya.

Akhirnya kamu mungkin berpikir, "Terus belinya di mana?"

Dan sebelum sempat mencari tahu, kamu sudah scroll ke konten lainnya.

Sayang banget, kan?

CTA bisa membantu mengurangi kebingungan seperti ini.

Tapi bukan berarti setiap konten harus selalu berakhir dengan "Beli Sekarang!". CTA harus disesuaikan dengan posisi audiens dan tujuan yang ingin dicapai.

Kalau orang baru pertama kali mengenal bisnis kita, mungkin CTA seperti "Pelajari Lebih Lanjut" lebih masuk akal daripada langsung meminta mereka membeli.

Sebaliknya, kalau audiens sudah melihat produk berkali-kali dan memang sudah berada di tahap siap membeli, CTA seperti "Pesan Sekarang" bisa lebih sesuai.

Jadi, CTA yang efektif bukan cuma soal memilih kata yang terdengar menarik. Kita juga perlu memahami siapa audiensnya dan tindakan apa yang memang ingin kita minta dari mereka.

Cara Membuat CTA yang Efektif

Ada beberapa hal yang bisa kita coba saat membuat CTA.

1. Gunakan Kata yang Jelas dan Mengajak

CTA sebaiknya langsung menunjukkan tindakan yang kita inginkan.

Daripada menggunakan kalimat yang terlalu abstrak, coba gunakan kata kerja yang jelas.

Misalnya:

  • Beli Sekarang
  • Daftar Sekarang
  • Download Panduan
  • Coba Gratis
  • Pesan Sekarang
  • Hubungi Kami
  • Lihat Produk
  • Cek Harga
  • Buat Janji
  • Pelajari Selengkapnya

Kata-kata seperti "beli", "download", "daftar", "coba", "pesan", dan "hubungi" membuat audiens lebih mudah memahami apa yang harus dilakukan.

Kita juga bisa menyesuaikannya dengan jenis bisnis.

  • Untuk ecommerce, misalnya bisa menggunakan "Tambah ke Keranjang", "Beli Sekarang", atau "Lihat Koleksi".
  • Untuk layanan, bisa menggunakan "Konsultasi Sekarang", "Buat Janji", atau "Hubungi Kami".
  • Untuk konten edukasi, bisa menggunakan "Baca Selengkapnya", "Pelajari Caranya", atau "Lihat Panduannya".

Ga perlu dibuat rumit. Yang penting jelas.

2. Jelaskan Manfaatnya

CTA akan terasa lebih menarik kalau audiens tahu apa yang akan mereka dapatkan setelah melakukan tindakan tersebut.

Bandingkan:

"Daftar Sekarang"

dengan:

"Daftar Gratis dan Dapatkan Panduannya"

Keduanya sama-sama mengajak orang untuk mendaftar. Tapi pada contoh kedua, audiens langsung mendapatkan gambaran mengenai manfaat yang akan mereka dapatkan.

Kita juga bisa memasukkan benefit ke dalam CTA, misalnya:

  • Dapatkan Diskon 20%
  • Coba Gratis 7 Hari
  • Download Panduan Gratis
  • Klaim Voucher Sekarang
  • Dapatkan Konsultasi Gratis
  • Lihat Harga dan Paket

Tentunya jangan membuat janji yang ga bisa kita tepati hanya demi membuat CTA terlihat menarik.

Kalau menawarkan gratis, memang harus gratis. Kalau memberikan diskon, pastikan memang ada diskonnya.

CTA yang bagus tetap harus sesuai dengan penawaran sebenarnya.

3. Gunakan Urgensi Kalau Memang Ada

Kata-kata yang menunjukkan urgensi bisa membantu mendorong audiens untuk segera mengambil tindakan.

Misalnya:

  • "Diskon berlaku sampai Minggu."
  • "Booking sebelum kuota penuh."
  • "Promo berakhir malam ini."
  • "Gratis ongkir hari ini."

Tapi ada satu hal yang perlu diperhatikan.

Jangan membuat urgensi palsu.

Kalau setiap hari kita menulis "Promo Berakhir Hari Ini!" tetapi besok promo yang sama masih ada, lama-lama audiens bisa kehilangan kepercayaan.

Gunakan urgensi ketika memang ada batas waktu, jumlah produk, kuota atau kondisi tertentu yang membuat audiens perlu mengambil keputusan lebih cepat.

4. Sesuaikan CTA dengan Tahap Audiens

Ini yang menurutku sering dilupakan.

Tidak semua orang yang melihat konten kita sudah siap membeli.

Orang yang baru pertama kali menemukan bisnis kita tentu berbeda dengan orang yang sudah beberapa kali mengunjungi website atau bahkan sudah memasukkan produk ke keranjang.

Karena itu, CTA juga perlu disesuaikan.

Untuk audiens yang masih berada di tahap awal, kita bisa menggunakan:

  • "Pelajari Selengkapnya."
  • "Lihat Cara Kerjanya."
  • "Baca Panduannya."

Sedangkan untuk audiens yang sudah lebih siap:

  • "Coba Sekarang."
  • "Mulai Berlangganan."
  • "Pesan Sekarang."
  • "Jadwalkan Konsultasi."

Dengan memahami posisi audiens, CTA bisa terasa lebih natural dan ga seperti memaksa semua orang untuk langsung membeli.

5. Jangan Memberikan Terlalu Banyak Pilihan

Punya banyak CTA bukan berarti pasti lebih bagus.

Misalnya di sebuah landing page kita memberikan sepuluh tombol berbeda:

  • Beli Sekarang.
  • Download E-book.
  • Hubungi WhatsApp.
  • Daftar Newsletter.
  • Lihat Instagram.
  • Baca Blog.
  • Cek Produk Lain.
  • Tonton Video.
  • Lihat Testimoni.
  • Pelajari Selengkapnya.

Bukannya membantu, audiens malah bisa bingung harus klik yang mana.

Karena itu, tentukan satu tindakan utama yang memang ingin kita dapatkan dari halaman atau campaign tersebut.

Kalau ada CTA tambahan, pastikan tetap mendukung tujuan utama.

Misalnya tujuan utama landing page adalah mendapatkan leads. CTA utamanya bisa "Konsultasi Gratis", sedangkan CTA sekunder bisa "Lihat Testimoni".

6. Buat CTA yang Sesuai dengan Konteks

CTA yang bagus di satu tempat belum tentu bagus di tempat lainnya.

"Beli Sekarang" mungkin cocok untuk halaman produk ecommerce.

Tapi kalau digunakan di artikel yang sedang membahas cara memilih skincare untuk pemula, CTA seperti "Lihat Rekomendasi Skincare" mungkin terasa lebih relevan.

Begitu juga dengan media sosial.

Di akhir konten edukasi, kita bisa menggunakan:

  • "Save postingan ini kalau kamu mau membacanya lagi."
  • "Share ke teman yang mungkin membutuhkan informasi ini."
  • "Kalau mau bahas bagian berikutnya, follow akun ini."

Jadi, jangan hanya memikirkan kata-kata CTA-nya. Lihat juga konteks konten dan tindakan apa yang paling masuk akal dilakukan audiens setelah melihatnya.

7. Jangan Takut Melakukan Testing

Kalau baru pertama kali membuat CTA, ga perlu berharap langsung menemukan formula yang paling bagus.

Justru kita bisa mencoba beberapa versi.

Misalnya:

Versi A:
"Coba Sekarang"

Versi B:
"Coba Gratis 7 Hari"

Atau:

Versi A:
"Hubungi Kami"

Versi B:
"Konsultasi Gratis"

Kemudian lihat hasilnya.

Untuk iklan, kita bisa melakukan eksperimen pada beberapa variasi copy. Untuk landing page, kita juga bisa menguji beberapa versi CTA dan melihat apakah ada perbedaan pada conversion rate.

Dari sini kita bisa belajar CTA seperti apa yang lebih sesuai dengan audiens kita.

Karena pada akhirnya, CTA yang paling bagus bukan selalu yang menurut kita paling keren. Bisa saja CTA yang kelihatannya sederhana justru menghasilkan lebih banyak konversi.

Kesimpulan

Call to Action memang cuma terdiri dari beberapa kata, tapi jangan menganggapnya sebagai bagian kecil yang bisa dibuat asal-asalan.

CTA adalah salah satu cara untuk mengarahkan audiens menuju tindakan yang kita inginkan, baik itu membeli produk, mengisi formulir, menghubungi bisnis, membaca artikel, sampai sekadar mempelajari informasi lebih lanjut.

Supaya CTA lebih efektif, kita bisa menggunakan kata-kata yang jelas, menunjukkan manfaat, memberikan urgensi jika memang diperlukan, menyesuaikannya dengan tahap audiens, membatasi pilihan, dan tentunya terus melakukan testing.

Dan satu lagi, jangan merasa bahwa CTA harus selalu terdengar seperti jualan.

Kadang audiens memang belum siap membeli. Bisa jadi mereka hanya butuh informasi tambahan dulu.

Jadi, coba tanyakan ke diri sendiri sebelum membuat CTA:

"Setelah melihat konten ini, sebenarnya aku ingin audiens melakukan apa?"

Kalau jawabannya sudah jelas, biasanya membuat CTA-nya juga akan jauh lebih mudah.

Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa membantu kamu membuat CTA yang lebih menarik dan sesuai dengan tujuan campaign. Sampai jumpa di artikel selanjutnya :)